Pernahkah kita sejenak berhenti dan jujur bertanya: di atas tanah seperti apa sebenarnya peradaban 280 juta rakyat Indonesia ini sedang berpijak?
Kita terbiasa membanggakan negeri ini sebagai zamrud khatulistiwa. Tanahnya subur luar biasa—bahkan ungkapan lama menyebut "tongkat kayu dan batu jadi tanaman." Di dalam perutnya tertimbun cadangan nikel kelas dunia, emas, batu bara, hingga minyak bumi. Namun, perbincangan mendalam bersama peneliti senior Prof. Danny Hilman Natawidjaja dalam program Bikin Terang (Official iNews) menampar kesadaran kita pada fakta yang pahit: kita begitu rakus mengeruk cuan dan kekayaan perut bumi, tetapi sengaja pura-pura buta terhadap bahaya katastropik raksasa yang sewaktu-waktu bisa meledak tepat di bawah telapak kaki kita.

Indonesia memayungi 127 gunung api aktif dengan bentang jalur tumbukan lempeng bumi tiga kali lipat lebih panjang daripada kepulauan Jepang. Di panggung politik, jargon "kemandirian" kerap disuarakan dengan lantang. Namun, bagaimana mungkin sebuah bangsa dapat mengklaim dirinya mandiri, jika keselamatan paling mendasar warganya dari ancaman gempa bumi dan letusan gunung api masih dipasrahkan pada nasib baik belaka?
Tabungan Data Sains yang Kosong Melompong
Kemandirian sejati berpijak pada kedaulatan data. Sebuah negara yang berdaulat wajib memahami anatomi halamannya sendiri. Fakta di lapangan menunjukkan bahwa Indonesia hingga hari ini belum memiliki bank data nasional yang memadai terkait siklus gempa besar dan kegunungapian.
Ketika gempa melanda Flores, tim peneliti di lembaga riset bahkan tidak dapat segera diberangkatkan ke lapangan karena ketiadaan anggaran operasional. Di Selat Sunda dan Mentawai, kita menghadapi ancaman seismic gap—jalur sesar sungkup raksasa (megathrust) yang telah tertidur ratusan tahun dan menimbun energi regangan tanpa pelepasan berarti. Simulasi ilmiah menunjukkan bahwa pelepasan energi pada magnitudo 9 berpotensi memicu gelombang tsunami melampaui 10 meter di Anyer dan pesisir Lampung dalam hitungan puluhan menit, serta rendaman 2 hingga 3 meter di Teluk Jakarta dalam waktu satu jam. Kendati demikian, perkiraan probabilitas kepastiannya belum dapat dipetakan secara tuntas akibat minimnya riset paleoseismologi. Kita bahkan belum tuntas memetakan lebih dari 350 segmen patahan aktif daratan, termasuk jalur sesar di dekat kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN).
Ahlinya Sedikit, Regenerasinya Mandek
Krisis paling mencemaskan sesungguhnya terletak pada sumber daya manusia. Di negeri cincin api paling aktif di muka bumi, ahli geologi gempa bumi spesifik hanya berkisar 6 orang, sedangkan pakar vulkanologi berpendidikan doktor (S-3) tidak mencapai 20 orang. Kelompok kecil ini pun terpecah-pecah di berbagai universitas, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), serta BRIN tanpa konsorsium nasional yang terpadu.
Regenerasi di kampus terhenti karena minimnya formasi dosen ahli, absennya beasiswa ikatan dinas khusus kebencanaan, dan tidak adanya jaminan karier profesional bagi peneliti muda. Menyerahkan pembacaan dapur magma Gunung Anak Krakatau, Gunung Salak, atau Gunung Gede kepada riset lembaga luar negeri adalah pengingkaran terhadap martabat kemandirian bangsa.
Doyan Beli Alat, Alpa Membina Manusia
Tata kelola anggaran mitigasi kita mengidap patologi struktural: dari 100 perak anggaran bencana, sering kali 99 perak habis dibelanjakan untuk pengadaan mesin dan sensor pemantau, sementara riset dasar, pemodelan data, dan edukasi publik hanya disisakan 1 perak. Proyek pengadaan alat impor marak karena mudah dieksekusi administratif, namun perangkat tersebut sering kali membisu di lereng gunung tanpa ada kecukupan ahli yang mampu membaca dinamika magma berlapis.
Pola ini diperparah oleh pendekatan anggaran reaktif. Anggaran pencegahan sebelum bencana ditekan sekecil mungkin, namun negara seketika menggelontorkan bantuan darurat triliunan rupiah secara tergesa-gesa begitu korban jiwa telah berjatuhan.
Dua Muka Alam: Mengambil Rahmat, Memitigasi Bahaya
Sebagaimana diingatkan Prof. Danny Hilman, alam Indonesia memiliki dua muka yang berasal dari satu rahim proses geologis yang sama. Penunjaman lempeng yang memasak kantong magma adalah proses yang sama yang melahirkan tanah pertanian paling subur di dunia, tambang nikel, tembaga, emas, dan energi panas bumi. Kita pantang bersikap serakah dengan hanya mengeruk mineralnya namun menutup mata dari potensi bahayanya. Peta percepatan tanah gempa (PGA) wajib dijadikan hukum tertinggi dalam tata ruang, termasuk membina para tukang dan pengembang agar rumah-rumah rakyat biasa dibangun dengan struktur tahan gempa.
Garis Haluan Gerakan Mandiri Bangsa
- Prioritas Riset Nasional: Tetapkan riset geologi gempa dan vulkanologi sebagai agenda pertahanan dan kedaulatan negara dengan pembiayaan mandiri yang berkelanjutan.
- Beasiswa Afirmasi Masif: Cetak ratusan doktor kebencanaan dan insinyur rekayasa gempa muda melalui beasiswa ikatan dinas strategis.
- Kedaulatan Standar Bangunan: Perketat audit konstruksi tahan gempa hingga ke permukiman rakyat di perdesaan dan perkotaan.
Kita tidak bisa memindahkan tanah air kita keluar dari Lingkar Pasifik. Sudah saatnya kita bangkit menjadi bangsa yang berdikari di atas ilmu pengetahuan sendiri: cakap mengambil berkahnya, dan sigap menguasai mitigasi bencananya.
