
Akhir-akhir ini, kita semua pasti merasakan hal yang sama: cari uang makin susah, harga barang di pasar makin mahal, tapi upah atau penghasilan kita segini-gini saja. Di berita, para pejabat sering bilang "ekonomi kita aman dan kuat." Tapi anehnya, nilai Rupiah kita makin babak belur, dan di sekeliling kita justru makin banyak tetangga atau saudara yang kena PHK.
Dalam sebuah diskusi jujur di YouTube Abraham Samad SPEAK UP, seorang pengamat ekonomi senior bernama Yanwar Rizki membongkar apa yang sebenarnya terjadi pada negara kita. Ternyata, selama ini "gaya mentereng" negara kita bukan hasil dari keringat pabrik-pabrik lokal kita sendiri, melainkan hasil dari terus-terusan meminjam uang alias berutang ke luar negeri.

Sebagai rakyat yang merasakan langsung susahnya hidup di bawah, kita tidak bisa lagi tinggal diam dan berharap pada janji-janji di atas. Kita harus paham penyakitnya dan mulai bergerak mandiri!
Kenapa uang di masyarakat sekarang rasanya "kering" sekali? Penjelasannya sebenarnya sederhana, persis seperti cara kita mengelola uang rumah tangga:
Pemerintah kita saat ini mengalami kondisi "besar pasak daripada tiang." Setoran dari pajak masyarakat menurun karena daya beli melemah, tapi pengeluaran pemerintah justru makin jor-joran. Akibatnya, tabungan cadangan negara kita sekarang berada di titik paling rendah dalam sejarah.
Demi menjaga suasana politik agar tetap tenang, anggaran negara banyak dipakai untuk proyek-proyek besar yang sifatnya menyenangkan para elit politik dan kelompok tertentu. Program-program yang katanya sampai ke desa, sering kali ujung-ujungnya hanya dinikmati oleh segelintir kontraktor atau penguasa lokal, bukan benar-benar menghidupkan warung atau usaha rakyat kecil.
Banyak pengusaha kecil dan menengah yang mengeluh karena uang pengembalian pajak mereka (restitusi) ditahan oleh kas negara. Padahal, bagi pengusaha lokal, uang itu sangat penting untuk mutar modal dan membayar gaji karyawan. Ketika uang ini mandek, perusahaan terpaksa melakukan PHK, dan akhirnya tidak ada uang yang berputar di masyarakat bawah.
Dalam diskusi tersebut, ada satu perumpamaan yang sangat bagus: Jangan menyelesaikan masalah dengan cara meniup balon terus-menerus, karena lama-kelamaan balon itu pasti akan meletus.
Setiap kali negara kita kekurangan uang untuk membiayai program-programnya, jalan pintas yang diambil selalu sama: cari utang baru luar negeri. Sekarang, utang yang jatuh tempo dan harus dibayar sudah tembus ratusan triliun Rupiah. Lebih parahnya lagi, para pemberi utang di luar sana sudah mulai ragu dan tidak percaya lagi dengan kemampuan bayar kita.
Kita jadi teringat pesan Bung Karno dahulu: "Perjuangan setelah merdeka akan lebih berat karena melawan bangsa sendiri." Bagaimana bangsa ini bisa merdeka dari jajahan utang modern kalau para pemimpin kita masih berpikir "tidak apa-apa utang menumpuk, yang penting kelompok saya kebagian proyek sekarang"?
Satu-satunya cara agar "balon utang" ini tidak meletus dan menghancurkan kehidupan rakyat kecil adalah dengan Diet Anggaran. Pemerintah harus berani menyetop proyek-proyek mewah yang tidak mendesak dan fokus menyelamatkan isi dompet rakyat jelata.
Lalu, apa yang bisa kita lakukan sebagai rakyat? Kita tidak bisa terus-terusan mengandalkan barang impor atau belas kasihan anggaran pusat. Kita harus memulai Gerakan Mandiri Bangsa dari bawah dengan cara desentralisasi (membagi pusat produksi ke daerah-daerah):
Selama ini, banyak dari kita yang bertahan hidup dengan menjadi pedagang kecil atau jualan di marketplace. Tapi sadarkah kita, barang yang kita jual kebanyakan adalah barang murah impor dari China? Begitu ekonomi di sana terganggu, pasokan barang macet dan kita tidak bisa jualan. Kita harus mulai belajar memproduksi barang sendiri di kampung-kampung kita.
Dana desa yang turun dari pusat jangan hanya habis untuk membangun semen jalanan atau gudang-gudang kosong yang tidak ada isinya. Warga desa harus kompak menuntut agar anggaran tersebut dijadikan modal usaha bersama lewat koperasi. Koperasi yang benar adalah yang mengolah singkong, padi, susu, atau hasil bumi lokal kita sendiri menjadi produk matang yang punya nilai jual tinggi.
Untuk menjaga agar uang tidak lari ke kota besar atau ke luar negeri, mari kita kuatkan perputaran uang di lingkungan kita sendiri. Belanjalah di warung tetangga, beli beras dari petani lokal, dan gunakan jasa orang-orang di sekitar kita.
Krisis ekonomi tidak akan pernah menyentuh orang-orang kaya yang punya simpanan Dolar atau emas di bank. Krisis selalu memukul kita, masyarakat menengah ke bawah, yang hidup dari upah harian atau mingguan.
Sudah saatnya kita berhenti berharap pada keajaiban dari atas. Mari kita rapatkan barisan di tingkat RT, RW, dan desa. Kita buktikan bahwa rakyat kecil bisa berdaya jika bersatu dan bergotong royong. Saatnya kurangi ketergantungan, mari produksi sendiri apa yang kita butuhkan, dan tegakkan kemandirian bangsa di tanah kita sendiri!