
Belajar “Bumbu Rahasia” Hidup dari Toto Kaneda Rich: Antara Kejujuran dan Usia yang Cuma Angka
Ada satu momen yang bener-bener membekas bagi Redaksi sewaktu kunjungan ke Jepang kemarin. Bukan soal indahnya bunga sakura atau canggihnya teknologi di sana, tapi soal obrolan santai kami dengan seorang pria tangguh bernama Toto Kaneda Rich.

Pertemuan singkat di Haneda Airport, tapi sarat makna. Dari Toto Kaneda Rich, kami belajar bahwa kejujuran dan ketangguhan melampaui batas usia
Sebenernya, jadwal kami padat banget dan rencana mampir ke Yokohama tempat Toto tinggal hampir saja batal. Tapi luar biasanya, justru Toto yang berinisiatif menyusul Redaksi setelah jam kerjanya beres. Sore itu, kami duduk ngobrol ngalor-ngidul. Sebuah pertemuan singkat yang dilakukan hanya beberapa jam sebelum Redaksi terbang balik ke Jakarta, tapi impresinya sangat mendalam.
Dari dia, kami belajar tentang sebuah ketangguhan yang bener-bener nggak bisa diukur pakai angka usia.
Dibayar “Cibiran” di Usia 50
Toto bukan pendatang baru yang sekadar ikut-ikutan tren kerja ke luar negeri. Dia adalah veteran yang sudah mengenal Jepang sejak program magang tahun 1995. Makanya, begitu pemerintah Jepang merilis visa baru (Tokutei Ginou/SSW) pada 2019, Toto langsung gercep mengambil peluang.

Sejak diberlakukannya visa Tokutei Ginou (visa keahlian khusus) pada Juni 2019, saya telah mengikuti perkembangan program ini. Saya juga hadir dalam seminar pertamanya yang diselenggarakan di Jakarta pada Agustus 2019.
Lucunya, banyak orang di sekitar malah ngetawain. Di usia Toto yang waktu itu masuk 46 tahun, langkahnya dianggap lelucon. Ada yang bilang,
“Halah, usia segitu mending di rumah saja urus cucu.”
Tapi Toto nggak ambil pusing. Cibiran itu malah dijadikan “bensin” buat pembuktian bahwa usia itu cuma soal angka, bukan soal batas kemampuan. Hasilnya? Dia sukses mendarat lagi di Jepang tepat di usia 50 tahun.
Modal “Nekat” dan Ujian Integritas
Cerita keberangkatan Toto ini juga nggak mulus-mulus amat. Sebelum berangkat, dia sempat terseret kasus penipuan oknum yang membawa lari uang titipan teman-teman calon pekerja sampai Rp200 juta. Bayangin, Toto sendiri adalah korban, tapi karena dia yang mengenalkan sosok tersebut, dia merasa punya beban moral luar biasa.

Setelah sempat tertipu, saya mengikuti ujian SSW Build Cleaning pertama di Indonesia pada November 2021. Lulus ujian tulis dan praktik, lalu berangkat ke Jepang dengan bekal sertifikat SSW Build Cleaning dan JFT.

Oktober 2019, saya ikut wawancara kerja ke Jepang di usia 46 tahun. Sempat ditertawakanākatanya lebih baik urus cucu. Justru itu yang membuat saya semakin semangat untuk membuktikannya.
Dia pun berupaya keras membantu menyelesaikan masalah itu sampai akhirnya harus berangkat ke Jepang pada Juli 2022 dalam kondisi finansial yang benar-benar “nol”. Modal nekat di kantong cuma 10.000 Yen (nggak sampai sejuta rupiah).

Modal Kejujuran dan Pintar bergaul jadi kunci sukses Toto Kaneda Rich di Jepang
Tapi Toto membawa aset yang jauh lebih mahal: Kejujuran dan Pintar Gaul. Ternyata bener, orang baik itu jalannya dimudahkan. Teman-teman yang dulu pernah Toto bantu secara cuma-cuma, malah gantian patungan membantu dia bertahan di awal-awal hidup di sana.
Kebaikan itu ternyata investasinya panjang, ya?
Dari “Tukang Bersih-bersih” Jadi Manajer
Di Jepang, Toto bekerja di bidang Building Cleaning. Berawal dari bawah, tapi karena kerjanya bener, kariernya melesat. Sempat naik level jadi Checker (pengawas kualitas), bahkan dipercaya menjadi Manajer Housekeeping di hotel-hotel bergengsi di Yokohama dan Fukuoka di bawah grup Ascot.

Mulai dari bawah, naik jadi checker hingga memimpin housekeeping hotel di Yokohama & Fukuoka. Kejujuran jadi kunciākini dipercaya bantu rekrut tenaga kerja Indonesia.
Kejujurannya bahkan bikin sang Shachou (bos) sayang banget sama dia. Sekarang Toto dipercaya penuh untuk membantu manajemen rekrutmen tenaga kerja dari Indonesia. Ini nih contoh nyata kemandirian: nggak nunggu instruksi dari pusat atau elite, tapi kita sendiri yang buat jalan dan jadi solusi buat orang lain.
Visi Pulang: Menebus Masa Lalu
Buat Toto, Jepang itu tempat menempa rasa syukur.
“Seberapa pun besarnya gaji, kalau rasa syukurnya kurang, tetap tidak akan cukup,”
ungkapnya kepada Redaksi. Kuncinya cuma satu: loyalitas dan jadi diri sendiri apa adanya.
Menjelang tahun kelimanya, Toto sudah punya rencana matang buat pulang ke tanah air. Dia ingin mendirikan LPK (Lembaga Pelatihan Kerja) sendiri khusus bidang perhotelan. Misinya mulia: dia ingin mewariskan “bumbu rahasia” suksesnya ke anak muda Indonesia supaya mereka punya skill matang dan nggak gampang ditipu seperti yang pernah dia alami.
Obrolan sore itu jadi pengingat buat kamiādan kita semuaābahwa kegagalan dan usia itu bukan titik henti, tapi cuma transisi buat pembuktian yang lebih besar. Toto sudah membuktikannya. Bangsa ini bakal kuat kalau kita berani mandiri dan bergerak dari bawah seperti dia.
Kalau Toto Kaneda Rich bisa, masa kita nggak?




