
Wajah Pesantren, Wajah Indonesia Mandiri
Mari kita jujur sejenak. Sering kali, kita lebih cepat percaya pada penilaian orang luar daripada suara dari rumah sendiri. Pesantren adalah contoh paling nyata. Begitu narasi global mengecapnya sebagai “sarang radikalisme”, kita seketika ikut tegang. Seolah-olah kita lupa bahwa lembaga ini sudah ratusan tahun hidup di tengah masyarakat dan ikut membentuk wajah Indonesia.
Padahal, pertanyaannya sederhana: Jika memang ada masalah di dalam rumah, apakah benar kita tidak punya cara untuk memperbaikinya sendiri?
Dalam sebuah diskusi mendalam di podcast CSRC UIN Jakarta, sutradara film dokumenter Pesantren, Shalahuddin Siregar (Mas Udin), bersama pakar kontra-narasi Irfan Abubakar, membedah kegelisahan ini. Mas Udin menawarkan sebuah pemikiran yang ia sebut sebagai “Logika Vaksin”. Gagasannya tidak rumit: jika ada “virus” dalam kehidupan sosial, tubuh itu sendiri sebenarnya memiliki mekanisme alami untuk menyeimbangkan diri. Kita tidak selalu harus menunggu “suntikan” solusi dari luar yang terkadang tidak nyambung dengan urat nadi kita.
Daya Tahan yang Sudah Lama Hidup
Di pesantren, perbedaan pandangan bukanlah barang baru. Irfan Abubakar menekankan bahwa tradisi kitab klasik penuh dengan perdebatan ulama yang dinamis. Di sana, musyawarah bukan sekadar formalitas dan adab bukan cuma tempelan. Semua itu membentuk ruang dialog dan sistem koreksi mandiri.
Artinya, ketika ada paham yang terlalu keras atau menyimpang, mekanisme internal pesantren sebenarnya sudah bekerja untuk mengujinya. Mas Udin melihat bahwa solusi untuk persoalan tersebut sebenarnya sudah ada di dalam Islam itu sendiri, hanya saja jarang digali.
Gerakan Mandiri Bangsa meyakini bahwa mandiri bukan berarti menutup diri dari dunia. Namun, kita juga tidak perlu terus-menerus memburu validasi luar untuk merasa benar. Bangsa yang sehat adalah bangsa yang tahu cara merawat dirinya sendiri melalui kekayaan tradisinya.
Kepemimpinan dan Modernitas yang Organik
Salah satu poin kuat dalam karya Mas Udin adalah potret kepemimpinan Ibu Nyai. Beliau memimpin bukan karena mengikuti tren atau tekanan wacana global, melainkan karena ilmu dan integritasnya memang diakui oleh komunitasnya.
Tanpa perlu banyak slogan, praktik keadilan gender sudah berjalan secara organik. Ibu Nyai membuktikan bahwa kemandirian—lepas dari ketergantungan pada sosok manusia—adalah fondasi kekuatan. Ini pelajaran penting: Modern bukan berarti harus meniru. Maju bukan berarti harus mencabut akar. Kita bisa berkembang tanpa kehilangan identitas. Justru di situlah letak kekuatan kita.
Kedaulatan Narasi: Rebut Kembali Lensa Kita
Tantangan kita hari ini bukan lagi soal fisik, melainkan soal persepsi. Mas Udin menyoroti bagaimana Korea Selatan berhasil mendunia karena mereka berani melakukan proteksi terhadap narasi lokalnya. Indonesia perlu belajar untuk tidak hanya melihat hasil akhir kesuksesan negara lain, tapi juga proses memproteksi suara lokalnya.
Kalau cerita tentang kita terus-menerus ditulis oleh orang yang tidak hidup bersama kita, kita hanya akan sibuk membantah stigma, bukan membangun cerita sendiri. Karena itu, kedaulatan narasi penting agar kita tidak kehilangan suara. Ketika santri dan pemuda mulai menulis, membuat film, dan berbicara di ruang publik dengan percaya diri, di situlah daya tahan bangsa sedang diperkuat.
Berdaulat Itu Dimulai dari Percaya Diri
Pada akhirnya, Logika Daya Tahan ini mengajak kita untuk berhenti merasa kecil di rumah sendiri. Kita akui jika ada kekurangan, lalu kita perbaiki bersama. Namun, kita juga harus percaya bahwa nilai-nilai yang tumbuh di tanah ini bukan sesuatu yang harus selalu dicurigai.
Kemandirian dimulai dari cara kita memandang diri sendiri. Kalau kita sudah yakin pada akar kita, angin sekencang apa pun tidak akan mampu membuat kita goyah. Dan mungkin, di situlah langkah pertama kita menuju bangsa yang benar-benar mandiri.
Menurut Anda, apa hal dari budaya kita yang paling sering salah dipahami oleh orang luar? Yuk, sampaikan pemikiran Anda di kolom komentar! (sty)
#GerakanMandiriBangsa #KedaulatanNarasi #LogikaVaksin #Pesantren #KemandirianBudaya
Sumber rujukan: Podcast CSRC UIN Jakarta – “Dari Lensa ke Hati: Peran Film dalam Melawan Ekstremisme” bersama Shalahuddin Siregar & Irfan Abubakar.
