Lebih dari Sekadar Besi dan Roda: Mencari Wajah Mandiri Bangsa di Jalur Bus Ungaran
Pernahkah Anda membayangkan, di tengah hiruk-pikuk kemacetan kota Dhaka atau jalur lintas panas di Bangladesh, ada sebuah detak jantung yang berasal dari tanah Jawa? Di sana, di antara ribuan kendaraan yang membelah kota, bus-bus gagah dengan bodi buatan tangan anak bangsa melaju dengan tenang. Mereka bukan sekadar mesin yang berpindah tempat; mereka adalah pesan yang sedang bercerita bahwa Indonesia tidak sedang tidur.

Ada kebanggaan yang sulit dilukiskan saat mendengar kabar bahwa bus buatan Ungaran atau Malang kini berseliweran di luar negeri. Rasanya seperti melihat kawan lama yang dulu sering dipandang sebelah mata, tiba-tiba sukses di perantauan. Tapi, kalau kita mau jujur, ini bukan cuma soal angka ekspor triliunan atau sekadar pamer merek. Ini soal sesuatu yang lebih mendalam: soal harga diri yang selama ini sering kita gadaikan pada label impor.
Selama ini, kalau kita bicara “kemandirian bangsa”, telinga kita mungkin sudah bosan mendengar pidato yang isinya cuma janji muluk. Tapi di bengkel-bengkel karoseri lokal, kemandirian itu tidak diucapkan. Ia dibuktikan lewat bau sangit las, percikan api, dan jemari teknisi kita yang dengan telaten menyatukan lempengan baja menjadi armada yang tangguh. Di sana, kemandirian itu nyata. Ia lahir dari inisiatif akar rumput yang percaya bahwa kita tahu apa yang kita butuhkan, tanpa harus selalu menunggu instruksi dari meja-meja elite di pusat.
Belajar dari Debu dan Banjir
Kenapa bus buatan kita laku di Bangladesh? Jawabannya sederhana: karena kita berbagi nasib yang sama. Kita sama-sama punya cuaca yang kalau panas bikin aspal mendidih, dan kalau hujan bikin jalan jadi kolam renang. Bus-bus mewah buatan Eropa mungkin tampak hebat, tapi mereka seringkali terlalu “manja”. Mereka didesain untuk jalanan mulus di Frankfurt, bukan untuk melibas kubangan lumpur atau suhu tropis yang lembap.
Para pengrajin bus kita tidak belajar dari buku teks luar negeri. Mereka belajar dari debu jalanan jalur Pantura. Mereka menciptakan suspensi yang kuat karena mereka tahu rasanya menghantam lubang. Mereka merancang bodi yang tahan banting karena mereka paham kerasnya medan di negara berkembang.
Inilah kedaulatan yang jujur. Kita tidak sedang mencoba menjadi orang lain. Kita tumbuh dengan cara kita sendiri, mengenali luka dan tantangan kita sendiri, lalu mengubahnya menjadi kekuatan yang bisa dijual ke dunia.
Menagih Kehadiran Negara
Namun, ada rasa getir yang terselip. Saat pengusaha lokal kita sudah berkeringat bertarung di pasar global, kadang mereka seperti berjuang sendirian. Kita lihat betapa agresifnya negara lain membawa produk mereka lewat diplomasi yang kencang. Sementara kita? Kadang kita masih terlalu sibuk menjadi “tuan rumah yang baik” bagi produk asing, tapi lupa menjadi “pelindung yang tangguh” bagi karya anak sendiri.
Bayangkan jutaan jemaah kita yang setiap tahun berangkat umrah dan haji. Kita menyumbang devisa yang luar biasa besar untuk Arab Saudi. Tapi begitu sampai di sana, jemaah kita diangkut oleh bus buatan negara lain. Padahal, bus buatan lokal kita punya kualitas yang sanggup bersaing. Di sinilah letak ironinya. Kemandirian tidak akan pernah jadi aksi nyata kalau kita sendiri masih malu-malu membela produk kita di meja diplomasi internasional.
Kita tidak butuh janji manis. Yang kita butuh adalah keberanian kolektif untuk bilang:
“Rakyat kami sudah bekerja keras menciptakan ini, sekarang tugas negara adalah membukakan pintunya.”
Milik Kita Bersama
Satu hal yang paling menyentuh dari industri ini adalah rantai manusianya. Di balik satu unit bus yang diekspor, ada ribuan perut yang terisi. Ada pabrik jok kecil, bengkel kaca, hingga pengrajin interior yang semuanya adalah tetangga-tetangga kita sendiri. Ini bukan soal satu-dua perusahaan besar yang ingin kaya, tapi soal bagaimana sebuah inisiatif di daerah bisa menghidupkan satu ekosistem rakyat.
Indonesia ini terlalu besar untuk hanya diatur dari satu titik. Kemandirian itu harusnya menyebar, tidak sentralistik. Biarkan setiap daerah menemukan “wajah” suksesnya masing-masing. Biarkan setiap inisiatif dari bawah ini mendapat panggungnya yang layak.
Sebuah Aksi, Bukan Lagi Janji
Pada akhirnya, melihat bus Indonesia di luar negeri adalah melihat cermin tentang siapa kita sebenarnya. Kita bukan bangsa yang hanya bisa jadi penonton. Kita punya tangan-tangan terampil, pemikiran yang cerdas, dan daya tahan yang luar biasa.
Kemandirian itu bukan sesuatu yang diberikan sebagai hadiah dari atas, tapi sesuatu yang kita rebut dengan kerja keras dari bawah. Ia adalah aksi nyata, hari demi hari, las demi las, hingga akhirnya dunia menoleh dan mengakui: bahwa bangsa ini tidak hanya jago berwacana, tapi juga mampu membuktikannya dengan karya.
Sebab Indonesia tidak akan pernah tegak hanya karena satu orang sakti, tapi karena kita semua berani bergerak bersama, mandiri dengan cara kita sendiri, dan berdaulat di atas tanah kita sendiri (redaksi)
