Belajar dari Dunia, Menjaga Indonesia Tetap Berdiri
Ada masa ketika bekerja keras terasa cukup untuk hidup layak. Namun hari ini, bagi banyak keluarga Indonesia, perasaan itu mulai memudar. Bukan karena kurang usaha, melainkan karena biaya hidup pelan-pelan menyalip pendapatan. Di meja makan, kita mulai berhitung lebih keras: harga pangan melonjak, biaya pendidikan kian mencekik, sementara hari esok seolah penuh tanda tanya.

Ini bukan sekadar keluhan. Ini adalah realitas yang berdenyut dari pusat kota hingga ke pelosok desa.
Sering kali, peristiwa di luar negeri dianggap jauh. Padahal, dari sanalah kita bisa membaca pola yang menentukan nasib kita. Bukan untuk menebar ketakutan, melainkan untuk memahami satu hal krusial:
Sebuah bangsa akan runtuh jika ia menggantungkan urusan perutnya pada sistem global, sementara fondasi di dalam rumahnya sendiri keropos.
Pelajaran dari Ambruknya Ketahanan
Kasus Iran memberikan kita peringatan yang dingin. Sebagai negara dengan kekayaan energi raksasa, mereka seharusnya tidak tergoyahkan. Namun, ketika mereka diputus dari sistem perbankan global dan ditekan dengan sanksi, ekonomi mereka goyang. Bukan karena mereka miskin, tapi karena sistem dunia didesain untuk “mempremanisasi” negara yang tidak mau tunduk pada aturan main mereka.
Bagi rakyat kecil di sana, krisis bukan lagi bahasa statistik. Ia adalah kenyataan pahit di mana inflasi melonjak hingga 75%, sementara kenaikan gaji hanya menyentuh 20%. Jurang inilah yang memicu ledakan sosial. Pelajarannya jelas: jika sebuah bangsa kehilangan kapasitas dasar untuk mandiri, guncangan global akan dengan cepat berubah menjadi bara di dalam negeri. Saat negara lebih sibuk mendanai pengaruh di luar namun gagal mengamankan daya beli di dalam, kedaulatan itu sedang dipertaruhkan.
Indonesia: Menghentikan Kerentanan
Indonesia memiliki peluang besar, namun kita tidak boleh naif. Ketahanan pangan dan energi kita masih sangat rapuh terhadap fluktuasi pasar dunia. Ketika harga gandum atau minyak dunia bergejolak, dapur-dapur di tanah air langsung terkena dampaknya.
Kita harus jujur: kekayaan alam kita melimpah, tapi sering kali manfaatnya terbang ke luar, meninggalkan warga lokal dalam ketidakpastian. Banyak dari rakyat kita bekerja di sektor informal tanpa jaring pengaman. Mengakui kenyataan ini bukanlah tanda menyerah. Justru sebaliknya:
Kejujuran melihat kelemahan internal adalah langkah pertama menuju kemandirian sejati.
Tanpa keberanian membenahi tata kelola dan integritas di dalam negeri, kemandirian hanyalah slogan di atas kertas.
Mandiri: Berdaulat di Tanah Sendiri
Sikap ini bukan berarti menutup diri dari dunia, melainkan upaya memiliki kapasitas minimum agar kita tidak ikut hancur saat situasi global sedang kacau. Kita tidak boleh membiarkan nasib kebutuhan dasar rakyat sepenuhnya ditentukan oleh kebijakan luar negeri pihak lain atau algoritma pasar global yang tidak memihak.
Kemandirian harus mewujud dalam hal-hal nyata:
Petani yang berdaulat atas lahan, benih, dan pupuknya sendiri.
Pangan terjangkau yang akarnya tumbuh dari ladang-ladang kita, bukan dari kapal impor.
Ekonomi daerah yang kuat, di mana warga lokal dilibatkan sebagai subjek pembangunan, bukan sekadar penonton.
Indonesia terlalu luas untuk diatur hanya dari satu titik pusat. Kekuatan kita ada pada keberdayaan daerah. Ketika daerah diberi ruang untuk berdaya, negara akan secara otomatis menjadi jauh lebih tangguh menghadapi badai global apa pun.
Menanam Masa Depan
Inilah alasan Gerakan Mandiri Bangsa berpijak. Kita percaya bahwa kedaulatan sejati tidak hanya diukur dari angka pertumbuhan ekonomi, melainkan dari kemampuan setiap rakyat untuk bekerja dengan martabat dan memiliki kepastian hidup.
Bangsa yang dewasa adalah bangsa yang mau belajar sebelum terlambat. Indonesia tidak dibangun oleh satu tangan, melainkan oleh daya hidup kolektif kita semua. Jangan serahkan masa depan kita pada kebetulan atau belas kasihan dunia. Mari kita bangun Indonesia yang benar-benar berdiri tegakāmandiri di atas kaki sendiri, berdaulat di atas tanah sendiri.
