Kuliah Tinggi, Tapi Tak Siap Bekerja: Potret Ironi Pendidikan Indonesia
oleh Redaksi Gema Bangsa
Klik gambar untuk melihat ukuran penuh
147,9 jtOrang bekerja (Nov 2025)
7,35 jtOrang menganggur (Nov 2025)
>1 jtSarjana menganggur (Feb 2025)
Ada beberapa angka yang seharusnya membuat kita berhenti sejenak, sebab di baliknya tersimpan sebuah ironi: semakin tinggi jenjang pendidikan yang ditempuh, semakin tidak otomatis pula seseorang siap menghadapi dunia kerja.
Menurut data Badan Pusat Statistik, per November 2025 sekitar 147,9 juta orang Indonesia berstatus bekerja — namun di luar itu, masih ada 7,35 juta orang yang menganggur. Angka pengangguran dari kalangan lulusan perguruan tinggi (D4, S1, S2, dan S3) bahkan sempat menembus lebih dari satu juta orang pada Februari 2025, tertinggi dalam empat tahun terakhir. Ijazah yang dulu dijanjikan sebagai tiket keluar dari kemiskinan, bagi sebagian orang justru berakhir di tumpukan lamaran kerja yang tak kunjung berbalas.
Namun, ada catatan penting di sini: sarjana bukanlah kelompok dengan tingkat pengangguran tertinggi. Data BPS justru menunjukkan porsi pengangguran terbesar datang dari lulusan SMA dan SMK. Berdasarkan data Mei 2026, lulusan D4 ke atas hanya menyumbang sekitar 14 persen dari total pengangguran nasional — atau kira-kira satu dari tujuh orang penganggur. Yang membuat tren ini layak dibahas bukan soal siapa yang paling banyak, melainkan arahnya: tingkat pengangguran terbuka lulusan minimal S1 terus naik sejak 2022, dari 4,80 persen menjadi sekitar 5,4 persen pada 2025 — sebuah kenaikan tiga tahun berturut-turut yang menandakan pasokan sarjana kini tumbuh lebih cepat dibanding lapangan kerja yang benar-benar membutuhkan mereka.
Di saat yang sama, sejumlah pelaku usaha di sektor pertanian dan perkebunan justru mengeluhkan kelangkaan tenaga terampil. Beberapa di antaranya bercerita sudah bertahun-tahun mencari agronomis untuk kebun kakao, nanas, atau pisang, dan tak kunjung menemukan orang yang benar-benar pernah bekerja langsung di lapangan. Ada pula pengusaha yang membeli lima traktor sekaligus untuk kebunnya, hanya untuk mendapati tak ada seorang pun yang bisa mengoperasikannya — bukan karena mesinnya rusak, bukan karena bahan bakarnya habis, melainkan karena tidak ada yang pernah diajari cara menjalankannya. Sarjana menganggur karena tak ada yang mempekerjakannya. Traktor menganggur karena tak ada yang bisa menjalankannya. Dua kemubaziran yang terjadi bersamaan, di negeri yang sama.
Ini tentu bukan potret seluruh industri, dan tidak semua sarjana pertanian bernasib demikian. Tapi contoh-contoh ini, ditambah data resmi soal naiknya tingkat pengangguran lulusan tinggi, cukup untuk menunjukkan adanya kesenjangan yang nyata antara apa yang diajarkan di kampus dan apa yang dibutuhkan di lapangan — terutama di sektor-sektor teknis seperti pertanian dan perkebunan.
Ijazah Berlimpah, Keterampilan Langka
Ini bukan semata soal lapangan kerja yang menghilang. Lapangan kerja itu ada — bahkan menganga lebar di beberapa sektor. Yang hilang adalah kecocokan antara apa yang diajarkan di ruang kuliah dengan apa yang dibutuhkan di ladang, di kebun, di pabrik, di dunia nyata. Riset Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) bahkan mencatat, di luar mereka yang benar-benar menganggur, ada kelompok lulusan yang "terjebak" bekerja di posisi yang sebetulnya tak membutuhkan pendidikan setinggi yang mereka miliki — sebuah pemborosan potensi yang tak selalu tertangkap dalam angka pengangguran resmi.
Sebagian dari akar masalah ini bisa ditelusuri pada cara pandang yang keliru sejak awal: kuliah kerap dianggap sebagai jalan pintas menuju pekerjaan, bukan ruang untuk menguasai ilmu dan keterampilan yang benar-benar relevan dengan kebutuhan daerah masing-masing. Di atas kertas, kampus-kampus kita memang punya otonomi untuk merancang kurikulumnya sendiri, mengikuti kerangka Standar Nasional Pendidikan Tinggi yang ditetapkan pemerintah sebagai acuan minimum. Tapi dalam praktiknya, banyak kampus daerah lebih memilih jalan aman: meniru pola kurikulum kampus-kampus besar di Jawa, alih-alih merancang sesuatu yang benar-benar menjawab potensi dan kebutuhan wilayahnya sendiri. Hasilnya sama saja — keseragaman yang lahir bukan dari paksaan, tapi dari ketiadaan keberanian untuk berbeda.
Memang sudah ada upaya perbaikan, misalnya lewat program vokasi dan kebijakan Kampus Merdeka yang mendorong mahasiswa magang dan belajar langsung dari industri. Namun upaya ini belum merata, dan di banyak kampus daerah, pola lama masih bertahan: kurikulum yang jauh dari konteks lokal, diajarkan oleh sebagian pengajar yang sendiri jarang bersentuhan langsung dengan dunia yang mereka ajarkan. Inilah wajah lain dari sentralisme — bukan hanya soal kekuasaan politik yang terpusat, tapi juga cara berpikir tentang pendidikan, seolah satu pola bisa cocok untuk seluruh Indonesia yang beragam ini.
Padahal kebutuhan petani kakao di dataran tinggi berbeda dengan petani nanas di dataran rendah. Kebutuhan industri di Kalimantan berbeda dengan kebutuhan industri di Jawa. Selagi arah pendidikan tinggi masih banyak mengekor ke satu pusat rujukan, ia akan terus berisiko melahirkan lulusan yang punya ijazah tapi tak punya keterampilan yang dibutuhkan di tempat mereka sendiri berpijak.
Ketika Ijazah Tak Lagi Jadi Jaminan
Di banyak sektor swasta dan industri, terutama di bidang teknis seperti pertanian, manufaktur, dan jasa, dunia kerja hari ini semakin menuntut bukti keterampilan nyata, bukan sekadar gelar di atas kertas. Perusahaan di sektor-sektor ini kian sulit terkesan dengan gelar S1 atau S2 jika orang yang membawanya tak bisa berbuat banyak di lapangan — meski tentu saja, di profesi-profesi yang diatur ketat oleh negara seperti kedokteran, hukum, atau aparatur sipil, ijazah formal tetap menjadi syarat mutlak yang tak tergantikan.
Fenomena kesenjangan semacam ini juga tengah berlangsung dengan skala jauh lebih besar di Tiongkok. Sepanjang 2021–2025, perguruan tinggi di sana menutup atau menghentikan penerimaan mahasiswa pada 12.200 program studi sarjana — lebih dari 30 persen dari total program studi di seluruh negeri — terutama di bidang seni, humaniora, bahasa asing, dan manajemen yang dianggap sudah jenuh. Sebagai gantinya, dibuka sekitar 10.200 program studi baru yang berorientasi pada kecerdasan buatan dan teknologi masa depan. Kebijakan ini diambil di tengah tingkat pengangguran muda yang menembus di atas 16 persen, dengan sekitar 12,7 juta lulusan baru berebut lapangan kerja setiap tahun — sebagian di antaranya akhirnya memilih bekerja di sektor ekonomi digital seperti ojek daring dan kurir, karena pekerjaan formal yang sesuai bidang keilmuan mereka sudah sulit ditemukan.
Yang terjadi di Tiongkok semestinya menjadi alarm bagi kita: pendidikan yang tercerabut dari kebutuhan nyata, betapapun tinggi jenjangnya, berisiko melahirkan generasi yang bingung mencari tempat berdiri. Jalan keluarnya bukan sekadar menambah jumlah sarjana, melainkan mengubah cara pendidikan itu dirancang: dari seragam menjadi kontekstual, dari sekadar teori menjadi keterlibatan langsung dengan dunia kerja lewat magang dan praktik nyata, dan yang tak kalah penting, memberi ruang bagi daerah untuk ikut menentukan jenis keterampilan apa yang paling dibutuhkan oleh warganya sendiri.
Inilah wajah kemandirian yang sesungguhnya, bukan sekadar slogan: kebebasan menentukan arah pendidikan sesuai potensi dan kebutuhan setempat, bukan sekadar meniru pola yang sudah ada di tempat lain.
Ketika Anak Muda Terpaksa Belajar Sendiri
Di tengah kesenjangan itu, ada satu pola menarik yang justru lahir dari inisiatif anak muda sendiri, bukan dari ruang kuliah: semakin banyak dari mereka yang memilih mempelajari keterampilan baru secara mandiri, di luar apa yang diajarkan kampus.
Salah satu contoh paling nyata adalah lonjakan literasi dan partisipasi anak muda di pasar modal. Menurut catatan Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), jumlah investor domestik melonjak dari 14,87 juta identitas investor tunggal (SID) pada akhir 2024 menjadi 20,32 juta pada akhir 2025, dan terus naik hingga menembus 30,30 juta pada Agustus 2026 — lebih dari separuhnya berusia di bawah 30 tahun. Tak ada mata kuliah wajib yang mengajarkan cara membaca laporan keuangan perusahaan atau menghitung risiko investasi kepada jutaan anak muda ini; mereka mempelajarinya sendiri, lewat aplikasi, komunitas daring, dan percobaan langsung dengan uang mereka sendiri.
Ini seharusnya jadi bahan refleksi, bukan sekadar dirayakan sebagai prestasi. Bila anak muda mampu menguasai hal serumit analisis investasi tanpa bimbingan formal, itu artinya kapasitas belajar mereka sebenarnya tidak kurang. Yang kurang adalah kemauan sistem pendidikan untuk mengajarkan keterampilan yang benar-benar mereka butuhkan begitu lulus — entah itu literasi keuangan, kemampuan teknis di lapangan, atau keterampilan digital lainnya. Ironinya jadi berlapis: kampus gagal membekali keterampilan yang relevan, tapi anak muda tetap menemukan jalan sendiri untuk mengisi kekosongan itu — hanya saja dengan risiko lebih besar, karena belajar sendiri tanpa pendampingan yang memadai juga rentan menjerumuskan mereka ke jebakan-jebakan seperti saham "gorengan" yang harganya melonjak liar berdasarkan rumor tak berdasar, lalu jatuh drastis begitu rumor itu terbukti keliru.
Memutus Ironi Ini
Potret yang muncul dari semua ini sebenarnya sederhana: rakyat, terutama generasi mudanya, tidak kekurangan kemauan atau kapasitas untuk belajar. Yang kurang adalah sistem pendidikan formal yang benar-benar mengajarkan apa yang mereka butuhkan untuk berdiri di dunia kerja, sesuai konteks dan kebutuhan daerah masing-masing.
Jalan keluarnya sudah cukup jelas arahnya, meski tidak sederhana untuk dijalankan: pendidikan tinggi perlu direformasi agar benar-benar menjawab kebutuhan tiap daerah, bukan sekadar mengikuti satu pola yang sama di seluruh negeri. Sembari menunggu perubahan itu terjadi, dorongan anak muda untuk belajar mandiri — termasuk soal literasi keuangan — patut mendapat pendampingan memadai dari negara dan lembaga pendidikan, supaya semangat itu tidak berakhir sebagai korban rumor dan spekulasi.
Sebab pada akhirnya, perubahan yang bertahan lama jarang lahir dari instruksi yang diseragamkan dari atas. Ia lebih sering tumbuh dari kepercayaan bahwa setiap daerah, setiap komunitas, dan setiap individu punya kapasitas untuk menentukan jalan belajarnya sendiri — asal diberi ruang, ilmu, dan kesempatan yang tepat untuk berkembang.
College-Educated, Yet Not Job-Ready: A Portrait of Indonesia's Education Irony
by Gema Bangsa Editorial Team
Click the image to view it full size
147.9MPeople employed (Nov 2025)
7.35MPeople unemployed (Nov 2025)
>1MUnemployed graduates (Feb 2025)
There are a few numbers worth pausing over, because behind them lies a genuine irony: the higher the level of education someone completes, the less it guarantees they're actually ready for the workforce.
According to Indonesia's Central Statistics Agency (BPS), around 147.9 million Indonesians were employed as of November 2025 — yet outside that figure, 7.35 million people remained unemployed. Unemployment among university graduates (from diploma-level D4 through bachelor's, master's, and doctoral degrees) even climbed past one million in February 2025, the highest in four years. The diploma once promised as a ticket out of poverty now, for many, ends up buried in a pile of job applications that never get a reply.
That said, here's an important caveat: university graduates aren't actually the group with the highest unemployment rate. BPS data shows the largest share of the unemployed comes from high school and vocational school (SMK) graduates. Based on May 2026 data, those with at least a D4 degree account for only about 14 percent of total national unemployment — roughly one in seven jobless Indonesians. What makes this trend worth examining isn't who makes up the biggest share; it's the direction it's heading. The open unemployment rate among holders of at least a bachelor's degree has climbed every year since 2022, from 4.80 percent to around 5.4 percent in 2025 — three consecutive years of increase, signalling that the supply of graduates is now growing faster than the jobs that actually need them.
At the same time, a number of business owners in the agriculture and plantation sector are complaining about a shortage of skilled workers. Some have spent years searching for agronomists for their cacao, pineapple, or banana plantations, without ever finding anyone who has actually worked hands-on in the field. One business owner bought five tractors at once for his plantation, only to discover that not a single person could operate them — not because the machines were broken, and not because there was no fuel, but simply because no one had ever been taught how to run them. Graduates sit idle because no one will hire them. Tractors sit idle because no one can drive them. Two forms of waste, happening at the same time, in the same country.
This certainly isn't a portrait of every industry, and not every agriculture graduate ends up this way. But these examples, combined with the official data on rising graduate unemployment, are enough to point to a real gap between what's taught on campus and what's actually needed on the ground — particularly in technical sectors like agriculture and plantations.
Diplomas Aplenty, Skills in Short Supply
This isn't purely a story about jobs disappearing. The jobs are out there — wide open in some sectors, in fact. What's missing is the fit between what's taught in the lecture hall and what's actually needed in the fields, the plantations, the factories, the real world. Research from the University of Indonesia's Institute for Economic and Social Research, at its Faculty of Economics and Business (LPEM FEB UI), even notes that, beyond those who are outright unemployed, there's a group of graduates who are "trapped" in jobs that don't actually require the level of education they hold — a waste of potential that official unemployment figures don't always capture.
Part of the root of this problem can be traced to a flawed mindset from the very start: going to university is often treated as a shortcut to a job, rather than a space to master knowledge and skills that are genuinely relevant to the needs of one's own region. On paper, our universities do have the autonomy to design their own curricula, working within the government's National Higher Education Standards as a minimum framework. But in practice, many regional campuses take the safe route: copying the curriculum patterns of the big, well-known universities in Java instead of designing something that truly addresses their own region's potential and needs. The result is the same either way — a uniformity born not of coercion, but of a lack of courage to be different.
To be fair, improvement efforts are already underway — vocational programs, for instance, and the "Kampus Merdeka" (Freedom to Learn) policy, which pushes students toward internships and direct learning from industry. But these efforts haven't reached everywhere, and at many regional campuses, the old pattern persists: curricula disconnected from local context, taught by lecturers who themselves rarely have direct contact with the world they're teaching about. This is another face of centralism — not just centralized political power, but a way of thinking about education, as if a single template could fit all of Indonesia's diversity.
Yet the needs of a cacao farmer in the highlands differ from those of a pineapple farmer in the lowlands. The needs of industry in Kalimantan differ from those of industry in Java. As long as higher education keeps taking its cues from a single reference point, it will keep running the risk of producing graduates who hold a diploma but lack the skills needed right where they stand.
When a Diploma No Longer Guarantees a Job
Across much of the private sector and industry — especially in technical fields like agriculture, manufacturing, and services — today's job market increasingly demands proof of real, demonstrable skill, not just a title on paper. Companies in these fields are less and less impressed by a bachelor's or master's degree if the person holding it can't actually deliver on the ground. That said, in professions tightly regulated by the state — medicine, law, the civil service — a formal diploma remains an absolute, non-negotiable requirement.
This same kind of mismatch is playing out on a far larger scale in China. Between 2021 and 2025, universities there closed or stopped enrollment for 12,200 undergraduate programs — more than 30 percent of all degree programs nationwide — mostly in fields like fine arts, the humanities, foreign languages, and management, which were seen as oversaturated. In their place, roughly 10,200 new programs were launched, oriented toward artificial intelligence and future technologies. The policy came amid youth unemployment above 16 percent, with about 12.7 million new graduates competing for jobs each year — some of whom have ended up working in the gig economy, as ride-hailing drivers or couriers, simply because formal work matching their field of study has become too hard to find.
What's happening in China should serve as a warning for us: education disconnected from real-world needs, no matter how advanced the degree, risks producing a generation left struggling to find its footing. The way forward isn't simply producing more graduates — it's rethinking how education itself is designed: from uniform to contextual, from theory-only to direct engagement with the working world through internships and hands-on practice, and, just as importantly, giving regions a real say in deciding which skills their own people actually need.
This is what genuine self-reliance looks like — not just a slogan, but the freedom to shape the direction of education according to local potential and local needs, rather than simply copying a pattern that already exists somewhere else.
When Young People Are Forced to Teach Themselves
Amid this gap, an interesting pattern has emerged — one that comes from young people's own initiative, not from the lecture hall: more and more of them are choosing to teach themselves new skills, entirely outside what's taught on campus.
One of the clearest examples is the surge in financial literacy and participation among young people in the capital market. According to the Indonesian Central Securities Depository (KSEI), the number of domestic investors jumped from 14.87 million Single Investor Identifications (SIDs) at the end of 2024 to 20.32 million by the end of 2025, and kept climbing to pass 30.30 million by August 2026 — with more than half of them under 30 years old. No mandatory course ever taught these millions of young people how to read a company's financial statements or calculate investment risk; they learned it themselves, through apps, online communities, and hands-on trial and error with their own money.
This deserves reflection, not just celebration as an achievement. If young people are capable of mastering something as complex as investment analysis without any formal guidance, it means their capacity to learn was never the problem. What's lacking is the education system's willingness to teach the skills they actually need once they graduate — whether that's financial literacy, hands-on technical skill, or other digital competencies. The irony runs deeper still: campuses fail to equip students with relevant skills, yet young people keep finding their own way to fill that gap — only at greater risk, since learning on your own without proper guidance also leaves you vulnerable to traps like "pump-and-dump" stocks, whose prices spike wildly on baseless rumours before crashing once those rumours are proven false.
Breaking This Irony
The picture that emerges from all this is actually simple: the people — especially the younger generation — aren't short on willingness or capacity to learn. What's missing is a formal education system that genuinely teaches them what they need to stand on their own two feet in the working world, in line with the context and needs of their own region.
The direction forward is clear enough, even if it won't be simple to carry out: higher education needs to be reformed so that it genuinely answers the needs of each region, rather than following a single template across the whole country. While that change is underway, young people's drive to teach themselves — financial literacy included — deserves proper support and guidance from the state and educational institutions, so that their enthusiasm doesn't end up as another casualty of rumour and speculation.
Because in the end, lasting change rarely comes from instructions handed down and standardised from above. It grows, far more often, from the belief that every region, every community, and every individual has the capacity to chart their own path of learning — as long as they're given the room, the knowledge, and the right opportunity to grow.