gerakanmandiri.com

Indra Jaya Laksana - Gerakan Mandiri Bangsa
Pulang ke Pelukan Ibu Pertiwi: Saat Kilau Rantau Runtuh oleh Panggilan Hati
Kisah nyata Indra Jaya Laksana melepas kewarganegaraan asing demi kembali berdaulat di tanah air.
× Full Image Preview

Pernah nggak sih kamu scrolling linimasa, lalu lewat video-video yang meromantisasi hidup di luar negeri? Tren "kabur aja dulu" sempat FYP di mana-mana, seolah-olah pindah ke negeri barat adalah jalan tol instan menuju hidup bahagia, mapan, dan bebas masalah. Standar sukses anak muda masa lalu hingga kini kerap diukur dari seberapa jauh kita bisa pergi dan melepas atribut keindonesiaan.

Tapi, bagaimana kalau kenyataannya jauh panggang dari api? Di balik gemerlap kota-kota di Eropa, tersimpan cerita-cerita sunyi yang jarang tersorot kamera. Mengapa seseorang yang telah puluhan tahun tinggal di Belanda justru memilih melepaskan kewarganegaraan asingnya demi kembali menjadi Warga Negara Indonesia (WNI)? Bagaimana perjuangan korban adopsi ilegal yang kehilangan identitas sejak bayi untuk mendapatkan kembali hak kewarganegaraannya?

Jawabannya terungkap dalam kisah Indra Jaya Laksana, yang dibahas tuntas dalam siniar Podcast What's Up Kementerian Hukum RI. Sebagai korban adopsi ilegal asal Indonesia yang dibawa ke Belanda saat masih bayi, Indra harus menempuh jalan berliku sebelum akhirnya menyadari bahwa seluruh hidupnya berdiri di atas fondasi yang keliru. Setelah mengetahui dirinya merupakan korban penculikan berkedok adopsi ilegal, Indra memutuskan memperjuangkan haknya untuk kembali menjadi WNI dan membangun hidup di tanah kelahirannya.

Di Sana Kita Cuma Angka, di Sini Kita Punya Jiwa

Banyak yang mengira tinggal di negara maju berarti hidup tanpa beban. Padahal, realitanya tidak seindah itu. Indra blak-blakan menceritakan betapa melelahkannya hidup di negeri orang. Tanpa sanak saudara, di tengah kultur yang dingin, berhadapan dengan biaya hidup yang makin gila-gilaan, dan tekanan ekonomi yang kian menghimpit setiap harinya. Kamu boleh punya paspor yang kuat di dompet, tapi kalau batinmu kosong, buat apa?

Buat Indra, tubuhnya boleh jadi tinggal di Eropa, tapi jantung dan jiwanya tidak pernah beranjak dari bumi Indonesia. Ada tarikan batin yang magis—sesuatu yang sering kita sebut sebagai panggilan ibu pertiwi—yang membuat seberapa lama pun seseorang tinggal di luar negeri, nalurinya akan selalu ingin pulang.

Perjalanan hidup Indra diwarnai luka masa lalu yang berat. Ia terpisah dari tanah kelahiran tanpa prosedur resmi akibat adopsi ilegal. Saat kebenaran itu akhirnya terkuak di usia dewasa, dunianya sempat runtuh seketika menyadari bahwa seluruh masa kecilnya berpijak pada kebohongan.

Perjuangan Korban Adopsi Ilegal

"Waktu dia (ayah angkat) bilang itu, dunia saya hancur berantakan. Karena semua yang saya pikir ada sampai saya umur 10 tahun itu tidak ada, itu adalah sebuah kebohongan..."

Alih-alih tenggelam dalam kepahitan dan menyalahkan keadaan setelah tahu kenyataan pahit tersebut, ia memilih berdamai, merangkul identitas aslinya, dan pulang ke rumah yang selama ini dirindukan.

Bersama Direktur Tata Negara Kementerian Hukum, pembahasan dalam siniar tersebut juga mengulas secara mendalam dampak hukum adopsi ilegal terhadap status kewarganegaraan, serta komitmen pemerintah dalam memberikan perlindungan hukum bagi para korban untuk memulihkan hak-hak konstitusional mereka.

Kenapa Banyak yang Justru Memilih Indonesia?

Kisah Indra seolah membalikkan narasi bahwa semua orang ingin meninggalkan negeri ini. Fakta di lapangan justru menunjukkan hal sebaliknya: data Kementerian Hukum mencatat lonjakan signifikan warga negara asing (WNA) maupun anak hasil perkawinan campuran yang antusias memilih dan berproses menjadi WNI.

Mengapa Indonesia tetap menjadi pilihan bagi banyak warga negara asing maupun diaspora Indonesia? Karena kenyamanan materi dan fasilitas modern di luar negeri ternyata tidak bisa membeli ketenangan jiwa. Kehangatan sosial, senyum ramah tetangga, rasa kekeluargaan, dan penerimaan yang tulus adalah kemewahan otentik yang hanya bisa kita temukan di Indonesia. Pada akhirnya, manusia butuh tempat di mana ia merasa benar-benar hidup, bukan sekadar bertahan hidup.

Pulang ke Akar, Menemukan Kedaulatan Diri

Apa yang disuarakan Indra ini sangat sejalan dengan napas Gerakan Mandiri Bangsa: sebuah kesadaran bahwa kemandirian sejati berakar dari seberapa bangga kita mengenali identitas diri sendiri.

Kemandirian bukan tentang seberapa hebat kita beradaptasi di budaya orang lain, melainkan keberanian untuk berdiri di atas kaki sendiri, menghargai sejarah bangsa, dan merawat rumah kita sendiri. Kalau bukan kita yang bangga jadi bagian dari bangsa ini, siapa lagi?

Pesan Indra untuk siapa saja di luar sana yang mungkin sedang silau dengan kehidupan luar negeri atau bernasib sama dengannya sangat sederhana tapi menohok:

"Pelajari sejarahmu, kenali tanah airmu. Kamu jauh lebih berharga dari apa yang dunia coba paksakan ke kamu. Indonesia adalah rumahmu."

Sebab pada akhirnya, paspor bisa saja diganti, tapi darah, akar, dan rumah tempat hati berlabuh tidak akan pernah bisa berbohong.

Tonton Siniar Eksklusif Selengkapnya