gerakanmandiri.com

Krisi Ekonomi Global

Prediksi Ngeri Ekonomi 2026: Apakah Rupiah Bakal Tembus Rp20.000?

Stabilitas ekonomi Indonesia saat ini tidak sedang berada dalam ruang hampa. Di balik narasi optimisme formal, tersimpan retakan fundamental yang berisiko memicu turbulensi hebat pada tahun 2026. Melalui diskursus mendalam antara Prof. Rhenald Kasali dan ekonom Feri Latuhihin, publik diingatkan pada satu angka psikologis yang mencemaskan: Rupiah di level Rp20.000 per Dolar AS.

Namun, angka tersebut hanyalah gejala (symptom). Penyakit sesungguhnya terletak pada tiga patologi struktural yang sedang menggerogoti kedaulatan ekonomi kita.

Gejala “Fiscal Crack”: Antara Populisme dan Disiplin Anggaran

Feri Latuhihin mengidentifikasi risiko fiscal crack (keretakan fiskal) sebagai konsekuensi dari postur APBN yang kian ekspansif namun minim diversifikasi pendapatan. Program-program populis berskala masif memang memikat secara elektoral, namun tanpa manajemen risiko yang ketat, hal ini menjadi “bom waktu” bagi rasio utang negara.

Dalam perspektif Kemandirian Bangsa, kedaulatan fiskal adalah fondasi utama. Negara yang ruang geraknya tersandera oleh ketergantungan utang dan aliran modal asing yang spekulatif tidak akan pernah memiliki kemerdekaan penuh dalam menentukan arah pembangunan nasional.

“Monkey Business” dan Erosi Integritas Pasar Modal

Salah satu poin paling krusial dalam diskusi ini adalah kritik terhadap ekosistem pasar modal Indonesia. Fenomena “goreng saham” atau manipulasi pasar yang diistilahkan sebagai Monkey Business telah merusak kepercayaan publik dan investor institusional.

Ketika pasar modal tidak lagi menjadi sarana pertumbuhan sektor riil melainkan arena spekulasi predatorik, maka akumulasi modal domestik akan terhambat. Erosi kepercayaan ini memicu capital outflow (larinya modal asing), yang secara langsung mengakibatkan tekanan depresiasi terhadap nilai tukar Rupiah.

Paradoks “The Death of Expertise” dalam Kebijakan Publik

Prof. Rhenald Kasali menekankan ancaman nyata dari hilangnya suara pakar dalam pengambilan kebijakan (The Death of Expertise). Kebijakan yang lahir dari kompromi politik jangka pendek seringkali mengabaikan peringatan teknokratis mengenai penurunan daya beli kelas menengah. Jika tren pertumbuhan kuartalan terus melandai hingga di bawah 3% pada 2026, Indonesia terancam terjebak dalam stagnasi yang mematikan bagi kemandirian ekonomi rumah tangga.


Analisis Kritis: Reorientasi Menuju Kemandirian

Proyeksi Rupiah ke angka Rp20.000 harus dipandang sebagai Early Warning System (EWS), bukan ramalan pasrah. Untuk menangkal skenario terburuk tersebut, dibutuhkan reorientasi strategis:

  • Pemulihan Integritas Institusi: Membersihkan pasar modal dari praktik spekulasi untuk menarik kembali modal domestik dan asing yang bersifat jangka panjang.

  • Kedaulatan Sektor Riil: Memperkuat produktivitas nasional di sektor pangan dan energi agar ekonomi domestik tidak mudah terguncang oleh fluktuasi mata uang global.

  • Pembaruan Narasi Kebijakan: Mengembalikan basis pengambilan keputusan pada data dan kepakaran, bukan sekadar opini populer yang mengabaikan kaidah ekonomi makro.

Tahun 2026 akan menjadi cermin bagi ketangguhan nasional kita. Apakah kita akan menjadi bangsa yang reaktif dan rapuh terhadap guncangan eksternal, atau bangsa mandiri yang mampu mengoreksi arah kebijakan sebelum badai tiba? Jalan menuju kemandirian menuntut keberanian untuk menghadapi realitas ekonomi pahit hari ini demi kedaulatan di masa depan.


Sumber rujukan: Analisis Panel Rhenald Kasali & Feri Latuhihin.

http://gerakanmandiri.com

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*
*